Sunday, June 10, 2007

KARYAKU BERTEPUK SEBELAH TANGAN

Pojok Angkringan

KARYAKU BERTEPUK SEBELAH TANGAN

Mur, biasa yo, es teh sing kentel, tapi jangan terlalu panas!” pinta Pugeg yang baru saja datang dari pura selepas menunaikan sembhyang Purnama. “%#%#&$@$*&%&^$@” nurani Mur berkata. “Saya lemon tea saja Mur” menyusul Thecool yang datang bersama Pugeg. “SIPPPP” Murpun bergegas meracik kedua pesanan tamu agungnya itu.

Tiba – tiba dari keremangan grobak angkringan muculah suara “Kalian berdua bawa apa itu?”(yang dimaksud adalah setumpukan kertas newsletter) “eh pak Mustaqim, maaf pak ga lihat, maklum agak remang-remang” sambil tersenyum Pugeg bersaut. “oh yang ini pak!(dengan semangat Thecool menunjukan bawaannya itu), tadi di pura kami membagikan newsletter Hindu hasil karya teman-teman di kampus pak” Thecool coba menjelaskan. “iya pak ini sisanya, nih untuk bapak buat bacaan di rumah, ya sekalian nambah-nambah pengetahuan!” Tambah Pugeg cepat sembari memberikan newsletter tersebut kepada pak Mustaqim

“wah, sungguh luarbisa hasil karya kalian, walau bapak gak begitu ngerti isinya tetapi bapak cukup bangga kepada kalian melihat zaman yang semakin edan dan banyak pemuda yang ikut-ikutan edan tapi kalian dengan penuh semangat masih mau meluangkan waktu tuk sekedar berbagi pengetahuan agama melalui tulisan” sambut pak mustaqim dengan panjang lebar.

“ya niatnya sih gitu pak, tapi sayang gak semuanya berpikiran seperti bapak, kami sering melihat karya kami hanya dijadikan alas duduk ataupun alas bunga pada waktu sembahyang dan yang lebih menyakitkan lagi ikut dibuang bersama dengan sampah-sampah sehabis sembahyang” gerutu Pugeg dengan nada kecewa. “kami membuat ini pun dengan ikhlas dan semangat beryadnya melalui tulisan serta dengan usaha keras kami mencurahkan waktu, pikiran, tenaga dan materi untuk bisa menghasilakan ini”lanjut Thecool dengan sendu. “BETUL sekali itu pak, tapi apa yang menjadi kenyataan masih jauh dari yang kami harapkan bahkan teman-teman di kampus pun ga semuanya kasih respon positip” tambah Pugeg.

“ya bapak bisa merasakan apa yang kalian rasakan, gak salah memang kalau kalian kecewa, tetapi kalian mesti ingat kembali tujuan kalian membuat ini(sambil menunjukan newsletter tersebut), yang pertama kalian katakan membuat ini dengan ikhlas atau istilah kalian semangat yadnya, tetapi kenapa kalian mesti mengungkit masalah pengorbanan(waktu,pikiran,tenaga,materi), apa pantas kalian katakan itu dengan sebuah keikhlasan. Kedua, kalian jangan terlalu berpikiran sempit, kenapa bapak bilang begitu karena diantara orang-orang yang tidak peduli, masih banyak orang-orang yang jauh lebih peduli bahkan dengan setia menanti terbitnya karya kalian ini. Ketiga, kalian harus sadar dan mengerti bahwa belum semua orang mencapai kesadaran seperti kalian kalau dalam istilah saya belum menemukan hidayah gitu.” Ceramah pak Mustaqim yang menurut kabar sudah tiga kali naik Haji.

“ya iya sih pak” sambut si Pugeg yang sudah menghabiskan dua gelas es the manis. “ya mungkin itu yang menjadi kekeliruan kami selama ini, pemuda kan juga manusia pak” lanjut Thecool diiringi canda.

“sebagai generasi muda Hindu kalian harus tetap semangat berjuang dalam bersumbangsih dan mengamalkan ajaran agama kalian, jangan lupa pesan bapak tadi ya,penting itu, kalau perlu dicatet, yowes bapak pamit dulu mau pengajian bersama di rumah” kata – kata terakhir pak Mustaqim.

“Iya pak terima kasih, jangan lupa pesan kami juga ya, untuk selalu menegakan DHARMA di mukadimah Hedonisme dunia fana” saut Pugeg dengan penuh semangat dan lantang. “%#%#&$@$*&%&^$@”dalam hati pak Mustaqim. “Lohhhh, mangnya dia ngeti DHARMA Geg???”Tanya bingung Thecool. “Loh mangnya tadi pak mustaqim pesen apa cool????”Tanya bodoh Pugeg.

“GUBRAK GUBRAK GUBRAK GUBRAK GUBRAK?!?!?!?”“ZINGZINGZINGZING ZINGZINGZINGZING”Sambut suasana angkringan mengakhiri obrolan di malam itu.

APAKAH KITA MASIH MAU MINUM BERDIRI?

APAKAH KITA MASIH MAU MINUM BERDIRI?

Guru kencing berdiri, Murid kencing berlari

Suka minum sambil berdiri, Penyakitpun kan turut menghantui

Oleh : mas Dagood

Sajak diatas bukanlah sekedar kelakar belaka, bukan isapan jempol dan bukan maksud hati untuk menakut-nakuti. Penulis sering mengamati behavior dan altitude orang-orang disekitarnya yang sering minum sambil berdiri, bahkan penulispun termasuk didalamnya. Perilaku ini sangat sering kita jumpai pada suatu kondisi tertentu, misalnya pada saat acara resepsi pernikahan di gedung, sering kita jumpai orang-orang yang makan dan minumnya sambil berdiri. Banyak alasan dikemukakan untuk membela diri, ada yang bilang tidak kebagian tempat duduk, ada yang berkata biar tidak jauh dari makanan dan ada menegaskan sudah menjadi bagian bagi kebiasaan. Mungkin beberapa alasan sangat logis untuk diterima akal kita, ada pula yang not make sense .

Penulis jadi teringat dengan beberapa nasihat orang tua yang sebagian besar bertemakan tata kerama dan tradisi, dimana salah satunya diajarkan untuk tidak minum sambil berdiri, “nak, dibiasakan kalau minum itu jangan sambl berdiri”, ungkap sang ibu pada anaknya, “loh, mangnya kenapa begitu”, Tanya polos anaknya, “pamali kata orang, lagi pula tidak sopan kalu diliat orang”, jawab singkat ibu. Dogma pamali, wagu, ataupun tidak sopan, sudah terpatri dalam benak kita, bahkan tanpa disertai alasan ilmiah dan make sense pun bukanlah menjadi soal.

Nah, seiring berubahnya zaman, mitos itu pun sudah mulai luntur dalam diri kita, seakan sudah bukan mejadi tradisi lagi untuk di jalankan. Inilah yang menjadi perhatian penulis untuk melihat reasonable dari sebuah mitos dan dogma yang seharusnya masih terpatri dalam diri kita. Seorang sahabat mengungkapakan “Rasulullah melarang umatnya minum berdiri” didalam hadist disebutkan "janganlah kamu minum berdiri", ungkap sahababat. Mungkin hal ini dapat diterima, karena bersumberkan pada ajaran agama, namun dimanakah letak alasan ilmiahnya?

Sahabat lain menandaskan fenomena ini dalam acuan pada ilmu akupuntur. Dimana dijelaskan bahwa air yang masuk dengan cara duduk akan disaring oleh sfringer, yaitu suatu struktur maskuler(berotot) yang bisa membuka (sehingga air kemih bisa lewat) dan menutup. Setiap air yang kita minum akan disalurkan pada “pos-pos” penyaringan yang berada di ginjal.

Namun demikian jika kita minum sambil berdiri, air yang kita minum tidak akan di saring oleh fringer, melainkan langsung menuju kandung kemih kita. Bahayanya jika air ini langsung menuju kandung kemih tanpa proses penyaringan, maka akan erjadi pengendapan di saluran ureter. Karena tidak melalui proses penyaringan maka akan banyak limbah-limbah yang menyisa di ureter. Dan yang mesti kita waspadahi bahwa saja limbah-limbah inilah yang bisa menyebabkan penykit kristal ginjal(salah satu penyakit ginjal yang berbahaya).

Memang sungguh luar biasa akibat yang ditimbulkan dari sebuah kelalaian dan ketidakpedulian akan suatu pemahaman. Sejak kecil pun, tak pernah bosan orang tua mengingatkan hal tersebut, bahkan ajaran agama pun turut menegaskanya. Mungkin ini dapat dijadikan pedoman untuk anda merubah behavior dan altitude dalam menjalankan kegiatan, walaupun hanya sekedar “minum”. Dan pertanyaan sekarang yang ditunjukan pada anda adalah “apakah kita masih mau minum sambil berdiri?”.

.

Saatnya laki-laki bicara poligami

Saatnya laki-laki bicara poligami

Oleh ida bagus rian mahardhika

”Tak ada satupun manusia yang akan pernah bisa bersikap adil, selama manusia tersebut masih terjebak pada dualisme dunia fana (baik-buruk, hitam-putih, bersih kotor, bagus-buruk dsb.” (da_good: 2005)

Menjelang pergantian Tahun sepertinya ada saja masalah yang terjadi pada kehidupan manusia di bumi Indonesia. Sepertinya Poligami menjadi satu isu besar yang akan memenuhi kaledoskop di akhir tahun 2006, bahkan saking maraknya perbincangan seputar Poligami, majalah sekaliber TEMPO tak mau ketinggalan ambil bagian pada edisi terbarunya. Masih dalam suasana menjelang peringatan hari ibu 22 Desember mendatang maka penulis ingin sekali ikut angkat bicara pada topik ini terkait dengan eksistensi perempuan dan perhatian terhadap problematika yang dihadapinya. Bagaimanapun penulis merasa mempunyai keterikatan dengan masalah tersebut karena ibu serta dua orang adik perempuan yang sangat penulis cintai dan sayangi.

Sebulan belakangan ini, mass media baik elektronik maupun cetak sangat santer memberitakan masalah Poligami baik yang sifatnya lagal secara hukum maupun yang esek-esek (dibaca di luar nikah), sebenarnya kasus ini bukan kalih pertama booming di masyarakat, masih ingat dengan kasus seorang Pengusaha(Praktisi Poligami)“Ayam Bakar”yang sangat kontraversial memberikan award bagi pihak-pihak tertentu yang mau mempublish praktek poligaminya. Ya, seakan kasus ini kembali mencuat seiring diberitakanya pernikahan kedua seorang tokoh agama yang sangat populis di kalangan masyarakat umum.

Nah pada kesempatan ini, izinkan lah penulis melihat problematika masalah tersebut dari sudut pandangnya. Penulis berpikir bahwa masalah ini bukan barang lama lagi, bahkan sejak zaman nenek moyang masih menjadi seorang pelaut lalu beralih ke zaman Majapahit, bahkan pada era Soekarno pun praktik-praktik seperti ini telah dijalankan. Bedanya pada zaman-zaman tersebut belum ada mass media yang rajin mempublishnya. Ini hanyalah sebagai pengantar sebagai penguat dasar penulis berbicara masalah ini.

Pada dasarnya tak ada wanita yang mau diduakan,tigakan, empatkan dst. Jangankan wanita penulis sebagai pria pun tidak mau diperlakukan serupa. Tak akan ada alasan rasional apapun yang mendasari seorang laki-laki untuk bisa menikah lebih dari satu kali. Apalagi kondisi pernikahan yang memang kondusif (sehat, sudah memiliki keturunan, sudah berkecukupan, dan bahkan sudah berlangsung lama), jika komdisinya seperti itu, apalagi alasan yang bisa diterima untuk menikah lagi. Sudah jengah penulis mendengar pemberitan-pemberitaan poligami yang dilakukan oleh tokoh-tokoh publik yang mengatasnamakan ”penghindaran zinah” sebagai dalih dari ”pemuasan nafsu birahi” semata.

Pedih penulis rasakan jika poligami yang sudah mewabah ini terus merajalela, apalagi belum ada obat yang tepat untuk menghentikan endemi virus tersebut. Tak usah jauh-jauh kita berpikir, bayangkan saja jika orang-orang yang kau sayangi dan cintai terkena dampak dari virus ini. Sebut saja ibumu misalnya, apakah kau akan menerimanya jika itu terjadi, melihat setiap tetes air mata ibumu, merasakan setiap jengkal penderitaan dan kesedihan yang ibumu rasakan. Bayangkan jika adikmu yang datang menangis kepadamu, berkeluh kesah atas penderitaanya sebagai korban dari poligami.

Penulis pernah berdiskusi dengan seorang teman mengenai pandangan ajaran agamanya terhadap problematika ini. Disebutkan oleh-Nya bahwa sesungguhnya tidak ada hal yang tegas dalam agamanya yang membolehkan melakukan praktik tersebut, kalau ada yang berdalih bahwa poligami dilakukan atas sunah Nabi, sesungguhnya ia tak pernah mengerti apa arti sunah. Dikatakan oleh-Nya bahwa dulu di zaman Nabi tindakan seperti ini semata-mata dilakukan dalam rangka melindungi kaum perempuan dari penindasan para kaum lelaki yang memperlakukan perempuan seenaknya. Bahkan konon katanya satu lelaki memiliki istri sampai empat puluh orang,BUSYET!!!. Sahabat pun melanjutkan ceritanya tentang marahnya Nabi Muhammad SAW ketika tau anaknya Fatimah ingin di poligami oleh Ali bin Abi Thalib. ”Jadi tak ada alasan untuk laki-laki berpoligami”sahabat coba menekankan.

Dari cerita sahabatnya, penulis coba menginterprestasikan bahwa terjadinya poligami pada zaman Nabi tersebut tak terlepas karena situasi dan kondisi yang memaksa hal tersebut dilakukan demi melindungi perempuan dari segala bentuk penindasan. Pertanyaannya sekarang adalah apakah Poligami masih relevan untuk diakukan pada zaman yang katanya demokratis ini. Atau ternyata pada kenyataanya kita masih ada di zaman ketika perempuan selalu menjadi pihak yang selalu dirugikan dari sebuah ketidakadilan.

Ya, saatnya kini kita berpikir lebih jernih, mencoba memahami perasaan perempuan dari cara mereka memandang, berpikir dan bersikap dalam menghadapi segala ancaman dan ketidakadilan yang dia rasakan. Tak ada yang lebih mulia selain perempuan yang hidup diatas ketidakadilan.

* penulis adalah anak dari seorang ibu yang menjunjung tinggi harkat dan martabat perempuan

SORE POJOK ANGKRINGAN

SORE POJOK ANGKRINGAN

Oleh ida bagus rian mahardhika

Ketika itu,,,,,,

Tertapak kedua kakiku di atas sebuah trotoar jalan

Memandang hiruk pikuk sore di sebuah kota pelajar

Kemudian,,,,,

Berjalan dan terus kulangkahkan tapak kakiku di atas aspal trotoar

Menuju suatu tempat yang menjadi pesona atas indahnya kotaku

Tak lama,,,,,

Terlihat sebuah grobak dekil yang menyajikan berbagai sajian khas jajanan pasar

Terpaku dan terduduklah aku disitu menikmati khasanah sosial ala tradisional

Lalu,,,,

Tersorot sebuah sosok yang cukup sabar menanti para pelanggan

Dengan senyum kepolosan dan kerendahhatian di sambutlah setiap orang yang datang

Kemudian,,,,

Kupalingkan pandanganku sejenak kepada dua sosok tua yang asik berbincang

Dengan tawa lepas kedua jompo berbagi cerita atas jago-jago bolanya

Selanjutnya

Kembali kupalingkan perhatianku kepada segerombol mahasiswa yang ribut membicarakan kebobrokan dosennya

Huh,,,, mahasiswa yang aneh,,,, pikirku seketika

Sesaat kemudian ,,,

Sepasang muda menyita dua bola mataku tuk mengamati kemesraan yang tersaji di atas kursi reot beralaskan bambu

Dan,,,

Akupun hanya bisa tersenyum, mencoba memaknai atas apa yang terjadi

Ku hanya tertunduk diam, sambil menggeleng-gelengkan kepala mencoba larut dalam keadaan

Sesaat itu,,,,,,

Dalam renunganku aku berpikir betapa penting dan berartinya gerobak dekil ini

Dan akupun terus berpikir, betapa semuanya bisa berawal dan berakhir disini

Sangat konyol memang, tapi itulah realita sosial kita

Sampai pada akhirnya,,,,,,

Segelas lemon tea dingin tersundut lemas di atas lengan besarku

Membuyarkan seluruh renunganku yang mendalam di

SORE POJOK ANGKRINGAN

*Penulis adalah penggila angkringan Pak Jenggot di Jeron Benteng Kraton

Kasih ibu sepanjang masa, kasih anak sepanjang,,,,,???

Angkringan (SA LEMBAR DESEMBER)

Kasih ibu sepanjang masa, kasih anak sepanjang,,,,,???

Sore itu cuaca memang sangat gelap, mendung pun terasa semakin pekat. Angin kencang berhawa dingin terasa menyentuh kulit, ya memang sudah seminggu ini hujan kerap mengguyur Jogja. Begitupun grobak angkringan mas Dumeh yang terlihat sangat lusuh dari kejauhan mata memandang, seakan terus memangil untuk sekedar singgah menikmati segelas teh hangat di tengah kegelapan sore yang mengharukan.

“Wah masih jam 4 sore kok dah gelap ya” Tanya lirih dalam hati The Cool yang saat itu baru saja terbangun dari tidur siangnya panjang. Bergegas dia ambil sepeda bututnya dan seketika mengayunkannya menuju grobak lusuh angkringan milik mas Dumeh. Dari kejauhan terdengar sebuah lagu lama dari radio mini mas Dumeh yang selalu setia menemani para pelanggan yang datang. “kasih ibu, kepada beta, tak terhingga sepanjang masa. Hanya memberi tak harap kembali bagai Sang Surya menyinari dunia” sebuah lagu romansa yang menceritakan cinta kasih seorang ibu yang tiada duannya. “ngopo eee mas kok sore-sore mewek” sapa The Cool kepada mas Dumeh yang sedang melamun. “ga papa, wong ak lagi meresapi lagu ini kok!” jawab sendu mas Dumeh. “iya tuh Cool, sejak denger lagu kasih ibu mukanya langsung cemrengut” saut pak Mustaqim dari balik grobak.

“eh pak Mustaqim, iya tuh pak kok mukanya kaya orang nahan tangis gitu deh” jawab The Cool seketika. “duh kalian ini menggangu lamunanku saja, lagu tadi mengingatkanku pada ibuku di kampung, sudah dua Lebaran ku gak pulang neh” jawab Dumeh sambil mengucek matanya yang mulai memerah. “oh gitu toh mas Dumeh, wah sama donk, aku juga sudah lama tak pulang, habisnya ga di kasih ma pacarku” lanjut The Cool. “weleh-weleh jadi disini ada dua pemuda yang lagi rindu ibunya toh, 22 Desember besok bukanya hari ibu ya?”saut pak Mustaqim yang konon katanya anti-Poligami. “iya po pak? Ak gak lupa eeee, ga pernah lihat tanggalan soalna, biasanya setiap hari ibu aku selalu mengirimkan ibuku setangkai bunga mawar lewat jasa teman di Jakarta loh pak!!!”timpal The Cool. “jangan ngapusi kamu Cool, tampang kaya kamu mana pernah inget Ibumu, wong kerjaanmu pacaran mulu!!!”Dumeh menanggapi dengan serius.

Loh, jangan lihat tampangnya donk, aku kan sangat sayang pada ibuku, lebih-lebih setelah aku merantau kesini, aku baru sadar bahwa begitu besar arti seorang ibu bagiku, dulu waktu ia dekat tak pernah aku memperhatikannya palingan kalo lagi butuh duit saja, selebihnya tak pernah kuhiraukan, bahkan hari ulang tahunnya saja aku tak tau. Tetapi tidak untuk sekarang, aku baru menyadari betapa bodohnya aku dulu, setiap dimintai tolong aku selalu minta imbalan, setiap dinasehati aku selalu melawan, setiap diberi selalu minta lebih. Padahal tak pernah ibuku meminta imbalan dari nyawa yang ia petaruhkan untuk melahirkanku, dari setiap tetes keringat yang ia keluarkan untuk mengurusku, setiap detik waktu yang ia habiskan membesarkanku, setiap lembar uang yang dihabiskan untuk memenuhi kebutuhanku dan setiap utaian doa yang ia panjatkan kepada Tuhan atas berkahnya untukku karena hanya ada satu alasan ia lakukan semua itu yaitu cinta dan kasih sayang yang tak terhingga sepanjang masa, percis seperti lagu ya barusan” curhat The Cool yang tanpa ia sadari air matanya telah mendahului tetesan hujan yang jatuh membanjiri grobak mas Dumeh.

“loh,loh,loh kok jadi kamu yang curhat Cool, pake nangis segala lagi, apa kata orang nanti, dikira aku lagi yang nangisin kamu!!”tanggap Mas Dumeh dengan nada meledek. “wah, bapak jadi ikut terharu denger ceritamu nak, bapak jadi teringat dengan almarhumah ibunya bapak yang sudah meninggal setahun yang lalu. Bapak bersyukur kalau kamu sudah menyadari kekeliruanmu selama ini, mumpung kamu masih diberikan waktu dan kesempatan oleh-Nya. Ya, jangan menyesalnya belakangan seperti bapak dulu” ceramah Pak Mustaqim dengan penuh kesenduan dengan sorot mata yang mulai berkaca-kaca.

“hix,hix,hix, iya pak, saya juga tidak mau menyesalinya dikemudian hari. Tuh mas Dumeh dengerin tuh apa kata pak Mustaqim, jangan jadi anak durhaka yang gak pernah sungkem sama ibunya di kampung, hehehe” sahut The Cool dengan penuh canda sambil menghapus bekas air matanya yang masih tersisa dan melekat dipipinya. “huhuhu, dasar kamu Cool menimpalkan kesalahan pada orang lain, tetapi yang jelas aku ga separah kamu yang tidak berbakti pada ibumu, ya kamu itu yang sebenernya durhaka, untung ga dikutuk jadi batu kamu” mas Dumeh mencoba membela diri.

“HAHAHAHAHAHAHAHA”mereka tertawa bersama-sama sebagai penutup topik pembicaraan di sore itu. Tetapi tiba-tiba saja HP the Cool berdering “halo bu, kabar Cool baik-baik saja,,,,ya nih bu, Cool gak punya duit, yang kemarin sudah habis buat ini, itu, anu,dll. Ayo bu segera kirimin uang bu, pokoknya Cool gak mau tau,,$^%*%($#^#% ya ibu,,,,pokonya harus” rekaman percakapan The Cool dengan ibunya yang coba disadap olek mas Dumeh dan pak Mustaqim. “huhuhuhu, dasar kamu Cool katanya menyesal dan udah sadar, kok masih gitu sama ibumu” gerutu mas Dumeh dengan penuh kecewa yang meihat tingkah laku The Cool. Pak Mustaqim pun tak dapat berkata apa-apa selain hanya menggeleng-gelengkan kepalanya yang mulai dipenuhi uban. “hehehehehe, maaf saya lupa kalau saya sudah sadar, heheheheh!!!!

“GUBRAK!!!!@$$^&%#&#(&&%!@”suara hati mas Dumeh dan Pak Mustaqim yang diiringi lagu “tik,tik,tik bunyi hujan diatas genteng” sebuah lagu yang terpancar dari radio dengan umur setengah abad milik mas Dumeh yang sekaligus menutup mendungnya sore di hari itu. (Rian)

Homescooling, sebuah alternative pendidikankah?

Homescooling, sebuah alternative pendidikankah?

Oleh: Ida Bagus Rian Mahardhika

Pada suatu kesempatan penulis berdiskusi dengan para sahabat mengenai sebuah sistem pendidikan atau pembelajaran yang diselenggarakan di rumah yang sekarang ini lebih dikenal dengan sebutan Homescooling. Sebenarnya konsep Homescooling bukan barang baru lagi di Indonesia, kurang lebih sudah 2 tahun belakangan ini konsep pendidikan semacam ini sudah mulai diterapkan oleh para orang tua di Indonesia. Sebenarnya bukan tanpa alasan konsep ini tercetuskan, berawal dari sebuah kekawatiran para orang tua tentang pengekangan kreativitas anak, kurangnya perhatian guru, bahkan lingkungan yang kurang kondusif kerap menjadi alasan orang tua untuk menerapkan konsep tersbut.

Sebut saja Seto Mulyadi, seorang pemerhati anak yang sudah tidak asing lagi di kalangan masyarakat, khususnya para orang tua. Pada suatu kesempatan talk show di salah satu televisi swasta, Seto Mulyadi menyebutkan bahwa dirinya adalah orang tua yang telah menerapkan metode pembelajaran tersebut kepada anaknya, berawal dari keengganan anaknya untuk masuk sekolah akhirnya Seto mencoba memodifikasi sistem pembelajaran bagi anaknya, melalui Homescooling tersebut didukung dengan upaya mendatangkan guru ke rumah akhirnya Seto mulai mengkaji lebih dalam konsep tersebut.

“Secara etimologis Homescooling tak lebih dari sekolah yang diadakan di rumah, namun secra hakiki ia adalah sekolah alternative yang menempatkan anak sebagai subyek dengan pendidikan anak secara at home” Seto menjelaskan. “Dengan pendekatan tersebut anak akan merasa nyaman dan dapat belajar sesuai keinginan dan gaya belajar masing-masing” tutur Seto mencoba mnegaskan esensi Homescooling. Ya, memang dibeberapa Negara maju seperti Amerika sitem tersebut sudah lama dijalankan, berdasarkan data tahun ini sudah 1,8 juta anak di Amerika menggunakan cara tersebut dan tahun depan diramalkan menjadi 2,5 juta.

Menurut pemikiran penulis sistem Homescooling hanyalah sebagai isapan jempol semata, tidak ada kurikulum yang jelas yang mengatur hal tersebut, wong yang sudah ada kurikiulumnya saja masih berantakan, apalagi yang ga ada. Coba kita melihat secra kontekstual sistem tersebut, dimana secara otomatis sistem tersebut mengharuskan orang tua harus mendatangkan guru ke rumah dan tentunya menghasilkan cost yang tinggi. Selain itu perhatian yang dibutuhkan untuk menjaga berlangsungnya sistem tersebut haruslah secara berkesinambungan tidak bisa secra parsial saja. Dan juga yang tidak kalah pentinnya yang mesti kita cermati mengenai ujian kesetaraan yang harus dilakukan oleh penganut sistem tersebut, sedangkan paradigma berpikir masyaralat Indonesia bahwa ijazah ujian kesetaraan tidak laku di pasar. Serta masih banyak serentetan tantangan dan faktor penghambat lain yang sekiranya dapat menghambat berjalannya sistem tersebut.

Oleh karena itu penulis coba mengajak pembaca untuk melihat kembali esensi sebuah pendidikan yang tidak hanya dilihat dari aspek keilmuaannya saja melainkan dari aspek sosialnya juga. Pada dasarnya keberadaan wadah organisasi sekolah sangat penting sebagai aspek pembentukan anak dalam bersosialisasi. Coba bayangkan kalau anak hanya terkungkung dalam sebuah metode Homescooling, maka secara physikologis si anak akan tumbuh menjadi diri yang tertutup, individualis, bahkan tidak mau mengenal dunia luar. Menurut Sosiolog Max Weber, peran organisasi sekolah menjadi salah satu aspek yang penting yang tak terpisahkan dalam pembentukan pribadi si anak. Oleh karena itu penulis merasa bahwa sangat tidak etis ketika orang mencoba membatasi ruang gerak sosialisasi anak dalam sebuh sistem yang bernama Homescooling.

Ketakutan akan salah pergaulan, pengekangan kreativitas, bahkan lingkungan sekolah yang tidak kondusif janganlah dijadikan suatu alasan dipilihnya Homescooling sebagi alternative utama. Sesunggunghnya hal-hal yang terkait dengan ketakutan diatas tidak akan timbul jika orang tua dapat memberi perhatian penuh kepada anaknya. Selain itu pihak sekolah sebagai fasilitator senantiasa dituntuk untuk selalu berperan serta dalam mendukung berkembangnya kreativitas dan secara berkesinambungan dapat mengawasi hal-hal yang sekiranya dirasa tidak sehat bagi tumbuh berkembangnya physikologis anak.

Intinya adalah bahwa Homescooling hanyalah pendidikan alternative bagi golongan berda yang mampu secra mandiri membiayai anakanya. So, bagaimana untuk orang tua yang tidak mampu, jangankan untuk menerapkan Homescooling untuk sekolah regular saja dirasa sangat sulit. Oleh sebab itu yang mesti kita pikirkan sekarang ini adalah bagaimana membuat sistem pendidikan alternative bagi anak-anak yang tidak mampu untuk bisa bersekolah yang penting adalah low cost high competence. Apa anda punda ide?

* penulis adalah Mahasiswa Manajemen dengan NIM. EK/15944

Waktuku yang Terbuang

Waktuku yang Terbuang
Apakah sesungguhnya kematian, selain telanjang di tengah angin, serta luluh dalam sinarnya? Dan apakah arti nafas yang berhenti, selain membebaskanya dari pasang surut dan surutnya ombak yang gelisah, sehingga bangkit mengembang lepas, tanpa rintangan menuju Illahi (Kahlil Gibran)
Oleh: Ida Bagus Rian Mahardhika

Sadar atau tidak kita selalu berpacu dalam waktu. Setiap aktivitas yang kita lakukan terbatasi oleh adanya ruang dan waktu. Waktu selalu menjadi suatu hal yang penting dalam hidup, tetapi sering dilupakan bahkan diabaikan. Beberapa waktu yang lalu penulis berdiskusi dengan para sahabatnya, kebetulan pada kesempatan tersebut tema yang dibahas mengenai “ waktu”. Hal tersebut tercetus ketika salah satu teman bertanya, “kira-kira berapa ya rata-rata umur manusia di dunia”?. Salah seorang teman yang lain menjawab, “ya menurut penelitian yang pernah saya baca, waktu rata-rata manusia meninggal dunia antara usia 60 -70 tahun” tandasnya. Dari situ dikusi kami mulai mengalir dengan berbagai pertanyaan yang timbul di benak masing-masing orang. Sebuah tema yang sangat simple memang tetapi sesungguhnya cukup penting untuk di bahas.
Anggap saja manusia meninggal pada umur 65 tahun,(hanya sekedar asumsi melihat data statistic yang ada). Lalu seorang teman berasumsi, “Untuk mencapai akil baligh seorang laki-laki diperkirakan ketika mencapai umur 15 tahun, sedangkan untuk perempuan sekitar 12 tahun”, tandasnya dengan penuh keyakinan. Teman yang satu lagi mencoba menganalisa, “kalau begitu usia yang tersisa untuk kita beribadah kepa-Nya hanya sekitar 50 tahun saja (Mati-Baligh = sisa usia, 65-15 = 50)”. “lalu 50 tahun yang akan dan sedang berjalan ini kita gunakan untuk apa saja ya?”, Tanya resah salah seorang sahabat lainya. Lalu salah satu teman mencoba mengnalisa dengan hitung-hitungan sederhana seperti ini : 12 jam siang hari , 12 jam malam hari berarti ada 24 jam satu harisatu malam

Setiap hari kita tidur kurang lebih sekitar 8 jam, dalam 50 tahun waktu yang habis dipakai tidur menjadi 146.000 jam(1825 hari x 8 jam) kalu kita ubah menjadi satuan tahun menjadi 16 tahun, 7 bulan, kalau dibulatkan menjadi 17 tahun. Sungguh angka yang funtastis memang, diamana tanpa kita sadari 17 tahun dalam hidup kita hanya digunakan untuk tidur. Sayang sungguh sayang memang, padahal pada akhirnya kita akan tertidur selamanya di dunia.
Lalu perhitungan lainnya adalah waktu aktivitas kita di siang hari yang memakan waktu kurang lebih 12 jam. Dalam 50 tahun waktu yang digunakan untuk beraktivitas kurang lebih sekitar 219.000 jam (1825 hari x 12 jam), jika kita ubah menjadi satuan tahun menjadi 25 tahun. Kalau ditelusuri aktivitas di siang hari manusia ada yang bekerja, kuliah, makan, gossip, rapat, fitness, ke salon, membaca bahkan ada yang sedang bercinta. Suatu realitas kehidupan kehidupan dengan serntetan aktivitas yang tiada henti dan tak bisa disamaratakan satu dengan yang lainya.

Perhitungan lainya lagi terkait dengan aktivitas santai atau relaksasi yang sering kita lakukan seperti membaca buku sambil mendengar musik, ada yang merenung mencari arti sebuah kehidupan, atau mungkin menggunakan waktu santai untuk menulis (seperti yang saya lakukan ini). Anggap dalam sehari kita punya waktu santai sekitar 4 jam, dalam 5 tahun waktu yang kita gunakan untuk merileksasikan diri sekitar 7300 tahun (1825 hari x 4 jam), jika kita konversikan menjadi 8 tahun.

Dari semua perhitungan diatas mari kita akumulasikan, 17 tahun waktu untuk tidur ditambah 25 tahun waktu untuk aktivitas siang hari ditambah 8 tahun relaksasi menjadi 50 tahun, belum lagi korupsi waktu lainya yang nonbudgeting.

”LALU, KAPAN IBADAHNYA DONK?”, cetus salah seorang sahabat dengan lantang. Pertanyaan yang cukup menampar dan menusuk kedalam sanubari yang paling dalam. Seakan kita lupa akan kewajiban kita sebagai umat manusia, terjebak pada keduniawiaan dunia fana. Padahal manusia diciptakan-Nya untuk beribadah kepada-Nya, karena satu hal yang pasti cepat atau lambat kita akan kembali ke alam hakii Ilahi. Siapa yang tahu datangnya maut, datang seketika, menjemput tanpa pernah bersahut. Malaikat datang menuntut untuk merenggut. Manusia hanya berencana, tetapi Tuhan yang punya kuasa atas hadirnya Surga dan Neraka.

Mencari ilmu memang ibadah bagi umat manusia, semua akan setuju akan pernyataan ini, tetapi hal tersebut berlaku bagi mereka yang niatnya memang untuk beribadah, tanpa memanipulasi nilai-nilai keilmuan menjadi nilai pembodohan terhadap yang tak berilmu. Namun kenyataan yang terjadi apa?, tanyalah pada jiwa-jiwa kalian sendiri apa tujuanmu kuliah?, dan saya bisa pastikan sebagian dari kalian akan menjawab, “wong kita mah kuliah mau nyari ijazah, bakal nanti bekerja agar mudah mencari nafkah?” .

Memang benar, bekerja mencari nafkah itu ibadah, tapi bekerja yang bagaimana? Apakah akan menjadi berkah ketika kita bekerja menumbalkan orang lain demi kepentingan perut kita semata, atau mungkin kita bekeja banting tulang, bahkan banting orang, dimana semua itu dengan satu tujuan mencari uang agar dapat membeli kekuasaan.

Jarang kita merasa senang ketika melihat orang lain bahagia dan sangat jarang kita bersedih melihat orang lain susah, bahkan kecendrungan yang terjadi malah sebaliknya,”senang melihat teman susah,susah melihat tema senang” , jika disingkat menjadi SMS². Adakah kita pernah mengucapkan salam ketika memasuki atau meninggalakan rumah/tempat lainnya. “iya, saya jarang melihat teman saya yang membaca bismillah saat hendak berangkat kuliah”. Tandas salah seorang teman. “tetapi saya pernah kok”, tandas teman yang lain. PERNAH, hanya sekedar pernahkah. Mungkin pernah terpatri dalam sanubari kita untuk mencari nafkah secara mulia, tetapi tak jarang semuanya harus pudar tertutup oleh asap dan kabut gemerlap dunia fana.

Salah satu teman penulis mencoba menjelaskan perhitungan waktu ibadah yang selama ini ia lakukan. Dirinya berasumsi pada sholat 5 waktu, Karena sebagian besar orang berpikir; sholat begitu besar pahalanya, sholat amalan yang dihisab paling pertama, sholat jalan untuk membuka pintu syurga?, “Kenapa kita harus cukup kalau ibadah kita hanyalah sholat kita”. Tandasnya.

coba kita asumsikan waktu sholat rata-rata 10 menit untuk setip kali sholat. Dalam 1 hari kita menghabiskan waktu sholat sebanyak 1 jam dengan penambahan diluar waktu sholat 5 waktu. Dengan begitu dalam waktu 50 tahun waktu yang terpakai sholat kurang lebih sekitar 18.250 jam(18250 hari x I jam) setelah dikonversikan sekitar 2 tahun. ini dengan asumsi semua sholat kita diterima oleh Allah swt.
”lalu dari semua pemaparan diatas apa yang bisa kita simpilkan?”, Tanya seorang sahabat. Sungguh ironis memang dari50 tahun waktu yang kita manfaatkan di dunia ini, hanya 2 tahun yang digunakan untuk beribadah. 2 tahun dari 50 tahun kesempatan yang telah diberikan, dengan catatan setiap ibadah yang dilaksanakan mendapat pahala. sekiranya sholat kita selama 2 tahun berpahala rasa-rasanya tidak
sebanding dengan perbuatan dosa-dosa kita selama 50 tahun; “dalam ucap
kata kita yang selalu dusta, baik yang terasa maupun yang di sengaja,
dalam ucap kata kita yang selalu cerca terhadap orangtua, dalam harta
kaya kita yang selalu kikir terhadap orang faqir, dalam setiap laku
langkah kita yang selalu bergelimang dosa”. Salah seorang sahabat mengucap.

dari semua itu, tiada satu yang tidak mungkin ketika seluruh umat memenuhi isi neraka untuk mendapatkan balasan atas kelalaian penggunaan waktu di tanah bumi ini. Sudah terlalu banyak waktu yang terbuang dengan percuma selama manusia hidup di dunia
dan semuanya itu akan menjadi bencana ketika manusia lupa akan hakekat waktu yang ia miliki.
Wahai kawan, tiada kata terlambat untuk memulai, mengisi waktumu dengan segala hal yang brmanfaat, tidak hanya bermanfaat untuk dirimu sendiri tetapi bagi seluruh mahluk hidup diseluruh antero bumi. Jangan terlalu lama berpikir, bahkan menunda suatu yang baik. Karena waktumu adalah nyawamu, nyawamu adalah ajalmu, kau tidak sedang bermain dengan waktu, tetapi waktu yang sedang memburumu(IBRM: 2005). Mencapai suatu kesadaran adalah anugrah terindah yang diri-Nya berikan pada umat manusia. Kesadran akan hadir-Nya. Kesadran untuk berserah diri pada diri-Nya. Bersyukurlah atas hidupmu kawan, karena dengan bersyukur segala kebaikan akan datang dari segala arah(IBRM:2005).

waktumu adalah nyawamu, nyawamu adalah ajalmu, kau tidak sedang bermain dengan waktu, tetapi waktu yang sedang memburumu(ibrm: 2005).
Bersyukurlah atas hidupmu kawan, karena dengan bersyukur segala kebaikan akan datang dari segala arah(IBRM:2005).